Posted by: mutia | October 7, 2008

Kisah Murid Pemberani

Kejadian lucu ini terjadi pada saat aku masih duduk di bangku SMP kelas 3.Saat itu semua murid kelas 3 mengadakan wisata ke kota Gudeg yaitu Jogjakarta bersama guru dan wali kelas.Setelah capek puter – puter kota Jogja , rombongan kami akhirnya pulang dengan aneka ragam wajah yang terpancar dari masing – masing murid.Ada seneng , ada yg keliatan capek , ada yg mabuk , dll.Tidak lupa , kami juga membawa oleh – oleh untuk yang dirumah.

Perjalanan pulangpun dimulai setelah rombongan meninggalkan Malioboro jam 09.00 malam.Karena sudah pada capek , maka perjalanan pulangpun banyak yang dipergunakan temen – temen untuk tidur.Lampu didalam bis pun dimatikan , sehingga suasana didalam bis jadi gelap dan cocok untuk tidur.

Tapi ada beberapa temen yg keliahatannya masih asyik ngobrol.Tapi tiba – tiba ada suara yg ternyata datang dari temenku yg bernama Susilo.Susilo: ” Wah..Wah… patung kuwi regane piro ?”(Wah..Wah..patung itu harganya berapa?)tanya Susilo pada Wahyudi.Tapi Wahyudi yg ditanya masih aja diem , gak nanggapi.Susilo tanya lagi : Wah….piro sih …Wah?(Wah..berapa sih…Wah?).Yang ditanya masih diem.Karena gak dijawab , akhirnya Susilo jadi jengkel….Sambil mendorong – dorong kepala orang yg ditanya..Susilo misuh – misuh :”asu tenan , ditakoki ra gelem jawab!” ( anjing lo ,ditanya ga mau jawab!).

Tapi ,begitu orang yg kepalanya dimainin oleh Susilo noleh ke belakang , Susilo jadi kayak cacing kepanasan.Ternyata kepala yg dibuat mainan tadi bukan kepalanya Wahyudi , ternyata kepalanya Pak Warsidi ,guru PMP kami.Dengan takut Susilo minta maaf.Namun karena sudah saking kurang ajarnya , Susilopun dapat hukuman sekali tamparan yang bikin pipinya merah merona.Kami yg liat kejadian itupun ngakak…..karena baru Susilo yg berani mainin kepala seorang guru PMP yg terkenal galak.

Akhirnya Susilo mendapat julukan Murid Pemberani…

Posted by: mutia | October 7, 2008

Abu Nawas Dan Kambing

Di negeri Persia hiduplah seorang lelaki yang bernama Abdul Hamid Al-Kharizmi, lelaki ini adalah seorang saudagar yang kaya raya di daerahnya, tetapi sayang usia perkawinannya yang sudah mencapai lima tahun tidak juga dikaruniai seorang anak. Pada suatu hari, setelah shalat Ashar di Mesjid ia bernazar, “ya Allah swt. jika engkau mengaruniai aku seorang anak maka akan kusembelih seekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia”. Setelah ia pulang dari mesjid, istrinya yang bernama Nazariah berteriak dari jendela rumahnya:

Nazariah : “hai, hoi, cuit-cuit, suamiku tercinta, aku sayang kepadamu, ayo kemari, cepat aku ggak sabaran lagi, kepingen ni, cepat, aku kepengen ngomong”

Abdul heran dengan sikap istrinya seperti itu, dan langsung cepat-cepat dia masuk kerumah dengan penasaran sebesar gunung.

Abdul : h, h, h, h, h, h, nafasnya kecapaian berlari dari jalan menuju kerumahnya “ada apa istriku yang
cantik?”
Nazariah : “aku hamil kang mas”
Abdul : “kamu hamil?, cihui, hui, “

Sambil meloncat-loncat kegirangan di atas tempat tidur, Plok, dia terperosok ke dalam tempat tidurnya yang terbuat dari papan itu.

Tidak lama setelah kejadian itu istrinya melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat cantik dan lucu. Dan diberi nama Sukawati

Pak lurah : “Anak anda kan laki-laki, kenapa diberi nama Sukawati?”
Abdul : “dikarenakan anak saya laki-lakilah makanya saya beri nama Sukawati, jika saya beri nama
Sukawan dia disangka homo.
Abdul : “Hai Malik (ajudannya) cepat kamu cari kambing yang mempunyai tanduk sebesar jengkal manusia”.
Malik : “tanduk sebesar jengkal manusia?” ia heran “mau cari dimana tuan?”
Abdul : “cari di dalam hidungmu dongol, ya cari diseluruh ke seluruh negeri ini”

Beberapa hari kemudian.

Malik : “Tuan Abdul, saya sudah cari kemana-mana tetapi saya tidak menemukan kambing yang punya
tanduk sejengkal manusia”
Abdul : “Bagaimana kalau kita membuat sayembara, cepat buat pengumuman ke seluruh negeri bahwa kita
membutuhkan seekor kambing yang memiliki tanduk sejengkal manusia untuk disembelih”

Menuruti perintah tuannya, Malik segera menempelkan pengumunan di seluruh negeri itu, dan orang-orang yang memiliki kambing yang bertandukpun datang kerumah Abdul, seperti pengawas Pemilu, Abdul memeriksa tanduk kambing yang dibawa tersebut.

Abdul : “hai tuan anda jangan menipu saya, kambing ini tidak memiliki tanduk sebesar jengkal manusia”
kemudian ia pergi ke kambing lain “jangan main-main tuan, ini tanduk kambing palsu”.

Setelah sekian lama menyeleksi tanduk kambing yang dibawa oleh kontestan sayembara, ternyata tidak satupun yang sesuai dengan nazarnya kepada Allah swt. Abdul hampir putus asa, tiba-tiba.

Abdul : “aha, saya teh ada ide, segera kamu ke ibu kota dan jumpai pak Abu dan katakan saya ingin
meminta tolong masalah saya.

Malik segera menuruti perintah tuannya, dan segera menuju ibu kota dan menjumpai Pak Abu yang punya nama lengkap Abu Nawas.

Malik : “Pak Abu, begini ceritanya, cus, cues, ces. Pak Abu bisa bantu tuan saya”
Pak Abu : “katakan pada tuan kamu, bawa kambing yang punya tanduk dan bayinya tersebut besok pagi ke mesjid Fathun Qarib.

Malik segera pulang dan memberitahukan kepada tuannya bahwa Pak Abu bisa membantu dan cus, cues, ces, sstsst,

Di esok pagi Abdul menjumpai Pak Abu dengan seekor kambing yang punya tanduk dan anaknya yang masih bayi tersebut, beserta istrinya.

Pak Abu : “Baiklah tuan Abdul, jika nazarmua kepada Allah swt. menyembelih kambing yang punya tanduk
sebesar jengkal manusia, sekarang tunjukkan mana kambing yang kau bawa kemari, dan mana anakmu”
Abdul : “ini kambing dan anak saya Pak Abu”

Pak Abu kemudian mengukur tanduk kembing tersebut dengan jengkal anak bayi tersebut dan Pak abu memperlihatkannya ke Abdul

Pak Abu : “sekarang kamu sudah bisa membayar nazarmu kepada Allah swt. karena sudah dapat kambing yang pas”
Abdul : “cihui, uhui, pak Abu memang hebat”, dia meloncat-loncat kegirangan di dalam mesjid setelah melakukan sujud syukur, dan tiba-tiba sleit, dia terpeleset jatuh, karena lantainya baru saja di pel oleh pengurus mesjid itu.

Posted by: mutia | October 4, 2008

Salah Sangka

Suatu ketika Arifin Panogoro, pemilik Medco, naik pesawat bersama karyawannya yang bule. Seseorang bertanya kepadanya, “Pak, kerja di mana?” Tentu saja pertanyaan yang salah karena Arifin pemilik bisnisnya, dia yang mempekerjakan si bule. Si penanya salah sangka, karena kulit Arifin lebih gelap maka dia diasumsikan penanya sebagai karyawannya si bule.

Saya juga pernah salah sangka. Suatu ketika saya menerima tamu seorang ibu dan bapak-bapak. Saya asyik berdialog dengan si bapak. Tak tahunya setelah saling menyodorkan kartu nama, tahulah bahwa ternyata si ibu yang pimpinan, si bapak yang anak buah. Malu.

Sering kita terjebak stereotip bahwa sesuatu yang kelihatan unggul, pastilah yang lebih penting. Padahal belum tentu. Kita baru tahu mana yang lebih penting setelah kita ‘diberitahu’ atau ‘belajar’ dari seseorang yang lebih tahu.

Bagaimana kita tahu siapa yang bos? Dari sikap orang di sekelilingnya (jangan lihat dari bajunya, biasanya yang berdasi dan berjas justru karyawan, sedang si bos pakai kaos oblong dan celana pendek! Makin bos, makin cuek penampilannya. haha). Orang-orang di sekelilingnya, yang tahu mana si bos, akan memperlihatkan hormat yang tinggi kepada orang terpenting, tanpa memandang bajunya.

Demikian pula ketika kita memandang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Yang awam akan menilai Idul Fitri lebih penting, jadilah dia sibuk memikirkan bagaimana bisa berlebaran dengan sukses. Yang sudah tahu, karena belajar dari Rasulullah Muhammad saw, dengan cepat mengenali bahwa bulan Ramadhan lah bos nya. Ramadhan berlipat lebih penting dibanding lebaran, dan karenanya disambut dengan persiapan dan penghormatan yang lebih tinggi.

Tes nih. Mana yang lebih memenuhi pikiran kita saat ini, Ramadhan atau Lebaran? Kali ini sebaiknya kita betul sangka.

Posted by: mutia | October 4, 2008

Ketika Doa Tak Kunjung di Kabulkan

Sering kita merasa lelah dalam berdoa, rasanya apa yang kita pinta tak kunjung dikabulkan. Sebenarnya di dalam Qur’an, Allah sudah menjanjikan bahwa setiap doa akan dikabulkan. Hanya saja kta tidak tahu, dalam bentuk apa wujud terbaik dari terkabulnya doa kita, dan juga kapan doa itu dikabulkan.

Ketika merasa lelah berdoa, saya mengingat dua kisah.

Yang pertama, kisah Tsa’labah. Dia seorang miskin yang minta kepada Rasulullah saw untuk dido’akan agar manjadi kaya (di sini ada pelajaran bahwa minta di do’akan orang lain adalah boleh, juga bahwa bisa jadi do’a sekelompok orang lebih makbul karena suatu kondisi istimewa tertentu).

Rasulullah sempat menolak dua kali. Karena Tsa’labah terus mendesak, akhirnya pada permintaan ke tiga dia di do’akan. Bukan Rasulullah yang menjadikan Tsa’labah kaya, tapi beliau hanya turut mendo’akan. Alkisah, ternak kambing Tsa’labah mendadak berkembang biak dengan sangat cepat (pelajaran berikutnya: uang tidak turun dari langit, jadi tetap ada usaha, dalam hal ini Tsa’labah punya bibit modal kaya yaitu ternak kambing). Tsa’labah kemudian menjadi kaya. Saking banyaknya ternak dia, maka dia menggembala hingga keluar kota. Akibatnya dia sering terlambat sholat Jum’at, bahkan akhirnya tidak sholat Jum’at.

selanjutnya

Posted by: mutia | September 4, 2008

Mengecilkan Perut Pakai Sedotan Ala Jepang

Gaya Jepang, kata yang nulis blog. Maksudnya dia lihat di acara TV Jepang.

Ini bukan sedot lemak perut. Ini murni sedotan biasa. Setelah saya coba, ternyata memang bagian perut terasa mengencang, seperti halnya kalau kita sit up.

Bener-bener ‘gue banget’ (cocok buat yang malas berolahraga). :)

Cocok buat ibu-ibu dan bapak-bapak yang pada mulai buncit (karena makmur maupun cacingan, hehe).

Selanjutnya

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.