Suatu ketika Arifin Panogoro, pemilik Medco, naik pesawat bersama karyawannya yang bule. Seseorang bertanya kepadanya, “Pak, kerja di mana?” Tentu saja pertanyaan yang salah karena Arifin pemilik bisnisnya, dia yang mempekerjakan si bule. Si penanya salah sangka, karena kulit Arifin lebih gelap maka dia diasumsikan penanya sebagai karyawannya si bule.
Saya juga pernah salah sangka. Suatu ketika saya menerima tamu seorang ibu dan bapak-bapak. Saya asyik berdialog dengan si bapak. Tak tahunya setelah saling menyodorkan kartu nama, tahulah bahwa ternyata si ibu yang pimpinan, si bapak yang anak buah. Malu.
Sering kita terjebak stereotip bahwa sesuatu yang kelihatan unggul, pastilah yang lebih penting. Padahal belum tentu. Kita baru tahu mana yang lebih penting setelah kita ‘diberitahu’ atau ‘belajar’ dari seseorang yang lebih tahu.
Bagaimana kita tahu siapa yang bos? Dari sikap orang di sekelilingnya (jangan lihat dari bajunya, biasanya yang berdasi dan berjas justru karyawan, sedang si bos pakai kaos oblong dan celana pendek! Makin bos, makin cuek penampilannya. haha). Orang-orang di sekelilingnya, yang tahu mana si bos, akan memperlihatkan hormat yang tinggi kepada orang terpenting, tanpa memandang bajunya.
Demikian pula ketika kita memandang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Yang awam akan menilai Idul Fitri lebih penting, jadilah dia sibuk memikirkan bagaimana bisa berlebaran dengan sukses. Yang sudah tahu, karena belajar dari Rasulullah Muhammad saw, dengan cepat mengenali bahwa bulan Ramadhan lah bos nya. Ramadhan berlipat lebih penting dibanding lebaran, dan karenanya disambut dengan persiapan dan penghormatan yang lebih tinggi.
Tes nih. Mana yang lebih memenuhi pikiran kita saat ini, Ramadhan atau Lebaran? Kali ini sebaiknya kita betul sangka.


